12.03.09
CAFTA
China-ASEAN Free Trade Agreement
CAFTA adalah Regionalisasi perdagangan bebas antara negara Cina dan ASEAN. Latar belakang munculnya gagasan tersebut adalah menilik pergeseran keseimbangan kekuatan ekonomi yang mulai bergerak ke arah “Kerajaan Timur Tengah” (middle kingdom) saat ini. Sehingga perlu adanya usaha untuk membentuk suatu integrasi perekonomian di negara ASEAN dan Cina.
Pada ahir tahun 2006, pertemuan ASEAN – Cina telah diselenggarakan di kota Nanning, Propinsi Guan Xi, Cina, dengan salah satu agendanya untuk memantapkan visi bersama dalam rangka Pasar Bebas Kawasan Cina – ASEAN (China-ASEAN Free Trade Area/CAFTA). Pemerintah Indonesia yang diwakili langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang didampingi oleh Mari Elka Pangestu menyetujui langkah kebijakan CAFTA tersebut. Harapan setelah diberlakukannya CAFTA, maka negeri ini akan menikmati berkurangnya hambatan non-tarif atas berbagai produk ekspor ke Cina.
Sejak awal tahun 2004, Indonesia sudah menyerahkan daftar yang berisikan sebanyak 400 kategori produk yang terhitung “sensitive and highly sensitive goods” untuk dikecualikan dari skema liberalisasi CAFTA. Daftar ini mencakup 348 kategori tarif bidang bidang industri otomotif dan elektronik termasuk industri komponennya, serta beberapa sektor industri tekstil dan kimia. Yang terhitung kategori “highly sensitive” berjumlah sebanyak 50 kategori tarif, termasuk beras, gula, kacang kedelai, jagung dan berbagai kelompok makanan pokok lainnya. Tujuannya adalah tetap meringankan harga impor dan mempertinggi harga ekspor ke Cina.
Dewasa ini, masih terdapat sebanyak 11 (sebelas) jenis komoditi yang terkena hambatan non-tarif, antara lain: minyak olahan, kayu, polyester, serat akrilik, karet alam, ban (karet), natrium sianida, gula olahan, pupuk kimia, tembakau dan rokok. Ini diluar kuota sekaligus tarif bea masuk ke Cina atas kakao sebesar 10%, juga untuk kelapa sawit, yang tidak jelas pengenaannya sehingga menyebabkan produk Indonesia kalah bersaing dengan produk yang sama dari negara lain. Selain itu, kendala lain adalah banyaknya pebisnis nasional yang belum cukup andal memanfaatkan negosiasi regional untuk memperoleh atau memperdalam pangsa pasar atas produk-produk yang selama ini menjadi unggulan memasuki Cina.
Untuk sebelas produk tersebut, sampai saat ini Indonesia masih memiliki pangsa pasar yang cukup besar di Cina. Sayangnya karena kelemahan dalam daya saing dengan sesama negara ASEAN, beberapa dari komoditas tersebut mulai kehilangan pangsa pasarnya. Pada umumnya produk-produk ini melemah daya saingnya karena pebisnis kita yang masih saja fokus pada pasar yang tidak mengalami pertumbuhan dan tidak mengambil kesempatan untuk memberdayakan potensi internal yang belum tergarap dari menggeliatnya perekonomian Cina.
Setiap kali muncul gugatan ketidaksiapan di pihak kita, hendaknya kita sudah harus benar-benar mulai menjauhi jawaban klise “…nanti saja, toh awalnya CAFTA masih lama sampai tahun 2010 nanti. Dalam hal ini sebaiknya pebisnis Indonesia tidak hanya membiarkan para expert dalam pemerintahan yang merumuskan langkah-langkah implementasinya, karena mereka juga dapat berperan dengan secara kontinu mensosialisasikan apa, mengapa dan bagaimana peran serta dunia bisnis dalam CAFTA.
Kebijakan pemerintah ini juga mendapatkan kritikan. Diskusi tentang pelaksanaan CAFTA di Jakarta, Rabu (2/12). Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesia Iron & Steel Industry Association/IISIA) Hidayat Triseputro, serta anggota Komite Pengawas IISIA Tri Purnomo.
Realisasi perdagangan bebas China-ASEAN atau CAFTA (China-ASEAN Free Trade Agreement) akan “menghancurkan” 10 sektor industri manufaktur nasional. Maka, Indonesia harus mengambil inisiatif negosiasi ulang dengan sesama anggota ASEAN dan China guna menunda realisasi CAFTA yang dijadwalkan mulai Januari 2010.
Aria Bima mengatakan, setidaknya 10 sektor industri manufaktur Indonesia akan berada di titik nadir jika Indonesia menandatangani perjanjian realisasi CAFTA. Padahal, saat ini saja, kondisi industri nasional sudah sulit atau kalah bersaing dengan produk impor.
Berdasarkan inventarisasi Komisi VI DPR, kesepuluh sektor industri yang akan terpuruk jika CAFTA dilaksanakan meliputi industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri makanan dan minuman, industri petrokimia, industri peralatan dan mesin pertanian, industri alas kaki, industri fiber sintetik, industri elektronik (termasuk kabel dan peralatan listrik), industri permesinan, industri rancang bangun serta industri baja. Lonjakan angka pengangguran dan kemiskinan hanya tinggal menunggu waktu dalam beberapa bulan saja.
“Kalau hal ini sampai terjadi, kampanye memerangi kemiskinan dan pengangguran hanya wacana karena yang terjadi sebaliknya. Kalau 10 sektor industri itu makin sulit dan terjadi defisit perdagangan, jumlah penganggur akan meningkat,” katanya.
Komisi VI DPR sudah minta pemerintah melalui Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan untuk menunda pelaksanaan CAFTA karena lebih banyak menghadirkan dampak negatif terhadap industri manufaktur nasional yang selama ini diandalkan untuk menyerap tenaga kerja.
Pemerintah harus mempelajari lebih dalam isi perjanjian CAFTA dan dampak sosialnya jika sekadar ikut CAFTA. Jika pemerintah lebih membela rakyat, seharusnya belum menandatangani CAFTA.
“Malaysia dan sejumlah negara lain memberlakukan bea masuk impor tinggi (sekitar 25 persen) terhadap produk impor untuk melindungi produk dalam negeri. Mengapa Pemerintah Indonesia bisa-bisanya memberlakukan bea masuk impor hanya 5 persen? Ini saja sudah membuat produk industri nasional sulit bersaing dengan produk impor, terutama dari China. Apalagi jika pemerintah menandatangani CAFTA dan membebaskan bea masuk impor. Pastinya ini membuat industri nasional mati secara perlahan,” katanya.
Wakil Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan, jika pemerintah menandatangani CAFTA, industri TPT nasional hanya akan menjadi pecundang di negeri sendiri. Saat pemerintah memberlakukan bea masuk impor 5 persen untuk produk dari China dan negara lain, industri TPT nasional sudah mengalami defisit sejak 2007 dan gejalanya terus meningkat.
“Jika pemerintah menandatangani CAFTA yang membebaskan bea masuk impor, industri TPT kita hanya menunggu waktu kematian. Selama beberapa tahun terakhir ini, kondisi kita sudah sangat sulit. Masalah ekonomi biaya tinggi, pasokan energi, infrastruktur, transportasi, pelabuhan, dan lainnya, selama ini membuat TPT kita kalah bersaing dengan China yang pemerintahnya memberi subsidi dalam jumlah besar,” katanya.
link :
http://www.iseas.edu.sg/ipsi12003.pdf
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=241308
http://www.isei.or.id/page.php?id=5aug076
02.20.09
hati2 FS or FB
Jawa Pos, 20 Februari 2009
LONDON – Kebiasaan memperkaya hubungan sosial via situs pertemanan
perlu diwaspadai. Hasil riset pakar dari Inggris, jika para pencinta
laman jaringan pertemanan di dunia maya -misalnya, Facebook (FB)
ataupun Friendster, itu sampai mencandu, dampaknya bisa buruk bagi
kesehatan. Bergaul di kehidupan nyata tetap lebih baik.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Biologist, jurnal terbitan The
Institute of Biology, Inggris, Dr Aric Sigman memaparkan bahwa
kebiasaan bergaul via situs pertemanan berpotensi mengurangi
sosialisasi antarmanusia di kehidupan nyata. Itulah kemudian yang
berdampak pada sisi-sisi biologis manusia. Di antaranya, mengubah alur
kerja gen, menghambat respons sistem imun, tingkat hormon, dan fungsi
arteri serta memengaruhi kondisi mental. Buntutnya, hal tersebut
potensial meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti kanker,
stroke, penyakit jantung, dan dementia (semacam kelainan jiwa).
”Situs jaringan pertemanan memang menghiasi kehidupan sosial kita.
Namun, hasil temuan kami berbeda. Ini bukan menjadi alat untuk
mempertinggi, malah makin menggantikan (hubungan sosial),” kata
Sigman seperti dilansir BBC kemarin (19/2).
Sigman sudah lama memperhatikan gejala sistem sosial seperti itu,
khususnya di Inggris yang menjadi lokasi penelitiannya. Dari
pengamatannya sejak 1987, interaksi manusia face to face kian menurun.
Apalagi sejak media elektronik berkembang pesat dan mengurung banyak
manusia dalam kesenangan pribadi dan individual. E-mail ataupun SMS
lebih disukai sebagai alat interaksi pengganti diri.
”Perubahan mendasar yang kini mendera warga Inggris adalah makin
berkurangnya jumlah menit per hari untuk berinteraksi dengan manusia
lain,” jelas Sigman.
Hal utama, ujar Sigman, penggunaan media-media elektronik untuk
berkomunikasi dengan sesama mengurangi makna penting komunikasi itu
sendiri. Kemampuan sosialisasi manusia makin tergerus, begitu juga
dalam memahami bahasa tubuh lawan bicara. ”Ini mungkin mekanisme
evolusioner yang menunjukkan kepada kita bahwa hadir bersama dalam
satu wilayah geografis itu lebih bermanfaat,’ ‘ ungkapnya. Sigman
menandaskan, ”Pasti ada perbedaan antara kehadiran nyata dan
penampakan virtual.”
Dia sekaligus memperkirakan, hingga dua dekade mendatang, intensitas
percakapan antara dua manusia atau berkelompok akan makin berkurang.
”Ini bukan berarti saya tidak gaul teknologi, tapi tujuan teknologi
kan seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan hubungan sosial kita,”
katanya
Sumber: http://www.jawapos. co.id/halaman/ ind…tail& nid=53218
kritisi lagu anak2..
email dari mas sulthonudin, moga bermanfaat !!!
Mungkin ada benarnya juga kalo ditelaah lagi lagu anak-anak berikut ini, maaf barangkali ada yang sudah pernah tahu
agd
Lagu anak-anak yang populer ternyata mengandung kesalahan, mengajarkan
kerancuan, dan menurunkan motivasi. mari kita buktikan :
1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya…merah, kuning, kelabu..
merah muda dan biru…meletus balon hijau, dorrrr!!!” Perhatikan
warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau ?
Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! —> bener jg!
2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalo berjalan
prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!” Perhatikan di bait
pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia
cerita tentang sepatunya (inkonsis- tensi). Harusnya dia tetap
konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya
dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)… kalo
berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop! jika ingin cerita
tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang
panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek..
srek..” itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!
3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis
mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan
setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini
membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam
menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu- buru. Sehabis mandi
seharusnya sianak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan
tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang!
4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan
kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X” Lagu ini dapat membuat
anak kecil kehilangan konsen-trasi, semangat dan motivasi! Pada
awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi
kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu
jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri
ke kanan aja, gak maju2!
5. “Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung ..
Surabaya .. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas
naik.. keretaku tak berhenti lama” Nah, yg begini ini yg parah!
mengajarkan anak- anak kalo sudah dewasa maunya gratis
melulu.Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Bandung
dan Jakarta-Surabaya!
6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2
sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li
li..li..li.. li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan
kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo
nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit..! kalo tri li li li li itu
bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!
7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum
susu..” Ini jelas lagu dewasa dan bkn untuk konsumsi anak2!
karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa,
bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi,
jadi gak pagi gak malem ya minum susu!
8.Waktu gw seminar kesulitan belajar pada anak dikasih contoh lagu
nina bobo nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk
menurut psikolog: jadi sekian tahun anak2 indonesia diajak tidur dgn
lagu yg “mengancam”
9. Bintang kecil dilangit yg biru… Bintang khan adanya malem,lah
kalo malem bukannya langit item?
10.Ibu kita Kartini…harum namanya. Namanya Kartini atau Harum?
11.Pada hari minggu..naik delman istimewa kududuk di muka. Nah,gak
sopan khan… Masa’ muka di duduki
12.Cangkul- cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun
kita… kalo mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin
sumur?
diambil dari : email receipt from sulthonudin
12.23.08
the world need INDONESIA
Suatu pagi di bandar lampung, menjemput seseorang di
bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja
si bapak.
Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat
bicara gaya melayu, english, (atau singlish?) beliau
menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih
muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga,
bahkan percintaan hehehe..
“Your country is so rich!”
Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu
dulu..
“Indonesia doesnt need d world, but d world need
Indonesia “
“Everything can be found here in Indonesia , u dont need d
world”
“Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di
Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh
Indonesia !”
Baca entri selengkapnya »
11.26.08
Jawa Timur Surplus Gula
Arsip tempoJawa Timur Produksi 47 Persen Gula Nasional
TEMPO Interaktif, Surabaya:Jawa Timur menghasilkan 1,1 juta ton gula atau 47 persen produksi nasional yang mencapai 2,3 juta ton setahun. Produksi gula ini dihasilkan dari 31 pabrik gula yang tersebar di seluruh provinsi itu.
Sekretaris PT (Persero) Perkebunan Nusantara XI Adig Suwandi mengatakan, tingkat kebutuhan gula di Jawa Timur mencapai 40 ribu ton per bulan dan stok cadangan penyangga 40 ribu ton per bulan. Sehingga, dalam setahun, Jawa Timur hanya memerlukan 520 ribu ton.
Sebanyak 580 ton sisanya dapat dialokasikan untuk wilayah lain yang bukan sentra produksi gula. Sedang konsumsi gula secara nasional diperkirakan 2,6 juta ton