Archive for the ‘Enterpreneurship’ Category

Analize, Organize, Apply

Yakni menganalisa kelemahan diri sendiri. Mengapa kita selalu berbuat kesalahan. Apakah itu faktor Internal atau Eksternal. Atur diri anda sendiri. Karena yang tahu luar dalam diri kita adalah diri kita masing – masing.

Dan, yang paling penting. Praktekan hal tersebut. Mulai dari hal yang terkecil. Sedikit demi sedikit. Dan Oala, Kita akan dapat melihat hasilnya. Saat kita sadar, kita sudah melakukan perubahan tersebut.

Iklan

generasi kedua

Posted: 19 Februari 2010 in Enterpreneurship

Generasi kedua yang dimaksud disini adalah penerus usaha dari generasi senior sang pendiri perusahaan. Biasanya, para pendiri usaha tertentu mempunyai harapan besar kepada anak atau penerusnya. Dia berharap anaknya dapat meneruskan usaha yang telah dirintisnya.

Masalahnya adalah tidak semua generasi penerus dapat memahami harapan orang tuanya. Sering terjadi kegagalan ketika mereka menerima tanggung jawab sebagi penerus usaha.. Hal ini dapat dimungkinkan karena beberapa alasan. Kemungkinan yang pertama adalah memang kurang mampu. Kedua, tidak diberi kesempatan bahkan memang tidak tertarik dengan bisnis keluarga.

Menurut saya, alasan tidak mampu adalah probalitas terkecil dari kemungkinan yang ada. Hal ini karena pendidikan yang ada sekarang sangatlah beragam dan generasi kita saat ini umumnya memiliki kemampuan dan talenta yang lebih besar. Banyak institusi pendidikan mengembangkan pendidikan berbasis kompetensi. Bahkan, pemerintah dan institusi swasta sering menyediakan event kompetisi dan beasiswa untuk mendukung pertumbuhan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.

Generasi kedua, tentunya akan memiliki kedekatan secara emosional dengan bisnis yang telah dikenalnya mulai dari masa kecilnya. Dan, biasanya tidak banyak pelaku bisnis non keluarga yang terlibat dalam bisnis tersebut. Namun, kadang masalahnya tidak selesai sampai disitu. Generasi senior sering menghakimi atas kemampuan penerusnya. Kadang generasi penerus dihakimi tidak mempunyai kemampuan dalam meneruskan bisnis keluarga. Hal ini sering terjadi. Padahal apabila generasi penerus diberi kesempatan untuk membuktikan diri. Kemudian, diberi batas – batas belajar dan melakukan kesalahan. Tentunya kemampuan generasi penerus akan terus berkembang sampai suatu saat bisa menerima tanggung jawab sepenuhnya atas bisnis tersebut.

Kemungkinan yang ketiga, yakni ketidaktertarikan terhadap bsinis keluarga adalah suatu yang wajar adanya. Karena tiap orang mempunyai ketertarikan yang berbeda – beda. Tentunya harus menerapkan manajemen yang bagus untuk menghindari resiko konflik yang ada. Manajemen harus diatur sedemikian rupa agar konflik yang ada tidak menyebabkan bisnis keluarga tidak hancur. Sayang kan apabila bisnis yang telah dirintis puluhan tahun, luluh begitu saja. Intinya adalah saling pengertian dan keterbukaan yang terjalin antar keluarga.

sejarah starbuck

Posted: 26 November 2008 in Enterpreneurship

Diambil dari artikel Visi Kemakmuaran Bumi
Ary ginanjar – Bisnis.com

Pada 1983, Howard Schultz yang baru setahun bergabung dengan Starbucks, melakukan lawatan bisnis ke Milan, Italia. Dia kesengsem dengan gaya warung-warung kopi di sana, yang menyediakan kehangatan tempat ngobrol, selain berjualan kopi dan espresso yang telah kondang.

Kembali ke Seattle, Schultz mengusulkan Starbucks menirunya. Dalam benaknya, warga Amerika Serikat (AS) pasti menyukai warung-warung kopi seperti itu. Tapi, trio guru bahasa Inggris Jerry Baldwin, guru sejarah Zev Siegel, dan penulis Gordon Bowker, yang mendirikan Starbucks pada 1971, tak setuju.

Alasannya, ide memasukkan bisnis minuman akan menjauhkan perusahaan itu dari fokus utamanya: berdagang biji kopi olahan kualitas tinggi dan peralatan pengolah kopi. Lagi pula, menurut mereka, orang minum kopi ya di rumah.

Schultz, yang begitu yakin dengan idenya, akhirnya keluar dari Starbucks dan mendirikan jaringan warung kopi Il Giornalle pada 1985. Rupanya, pada 1987, trio Baldwin-Siegel-Bowker menyerah dan menjual Starbucks. Dengan bantuan beberapa investor lokal Schultz mendapatkan perusahaan itu. Selanjutnya, Schultz mengubah nama warung-warung kopinya menjadi Starbucks.

Singkat cerita, sampai akhir Maret 2008, Starbucks punya lebih 16.226 outlet di seluruh dunia. Jumlah pegawainya 172.000, dengan total aset US$5,343 miliar dan pendapatan bersih US$72,64 juta (2007). Malah, Starbucks kini punya beberapa anak perusahaan: Tazo Tea Company, Seattle’s Best Coffee, Torrefazione Italia, Hear Music dan Ethos Water.

Schultz, yang lahir pada 19 Juli 1953, dibesarkan di permukiman miskin Brooklyn, New York. Beasiswa rugby di Northern Michigan University menjadi semacam tiketnya untuk keluar dari impitan kemiskinan. Lulus kuliah, dia melakukan berbagai pekerjaan hingga menjadi manajer operasi Hammarplast (produsen alat mengolah kopi dari Swedia) untuk AS.

Pekerjaan itu membawanya berkunjung pada 1981 ke toko kopi terkenal di Seattle, Starbucks, salah satu pembeli setia produk yang dijualnya. Schultz terkesan dengan aroma kopi olahan di toko itu yang aduhai.

Akan tetapi, yang lebih memikatnya adalah totalitas orang-orangnya dalam memilih dan mengolah kopi. “Saya pergi dari tempat itu seraya berkata, ‘Tuhan, betapa hebatnya perusahaan itu, betapa hebatnya kota itu. Saya ingin sekali menjadi bagian darinya’,” kata Schultz mengenang.

Setahun kemudian, impian Schultz terwujud. Bos Starbucks menerimanya dan mengangkatnya sebagai direktur pemasaran dan operasi. Itulah titik balik perjalanan Schultz, dengan misi “menyuguhkan secangkir kopi hebat” kepada dunia. Namun, lekat menempel di bawah tujuan itu adalah, seperti dikemukakannya sendiri, “prinsip membangun sebuah perusahaan dengan jiwa.”

Prinsip itu begitu dalam menancap di sanubari Schultz karena getirnya hidup sang ayah. Ayahnya bekerja mati-matian dengan gaji rendah dan sampai akhir hayatnya tetap menderita. “Dia direndahkan dan tidak dihormati. Dia tidak punya asuransi kesehatan dan dia tak mendapat kompensasi ketika terluka saat bekerja,” katanya.

Itu sebabnya Schultz menerapkan kebijakan yang tak lazim dalam dunia ritel. Seluruh pegawai, organik ataupun tidak, yang bekerja paling sedikit 20 jam dalam sepekan berhak mendapat tanggungan kesehatan komprehensif, termasuk untuk pasangan dari pegawai yang tak terikat pernikahan sekalipun. Pegawai mendapat opsi kepemilikan saham, termasuk pegawai paruh waktu.

Terapkan CSR

Selain itu, Starbucks juga menjaga komitmen tinggi pada tanggung jawab sosial korporat (corporate social responsibility/CSR). Menurut Orin Smith, pengganti Schultz sebagai CEO pada 2000, CSR menjadi bagian tak terpisahkan dari Starbucks, yang menjadi langganan daftar Fortune’s 100 Best Company. “Tanpa itu, perusahaan kami tak mungkin beroperasi,” kata Smith.

Starbucks sangat memedulikan pemangku kepentingan (stakeholders), mulai mitra (pegawai), petani kopi sampai ke pelestarian lingkungan. Dan, kepentingan pemegang saham tetap terpenuhi dengan laju pertumbuhan tinggi.

Kepada petani yang meningkatkan standar kualitas, kepedulian lingkungan, sosial dan ekonomi, Starbucks menghadiahinya status “pemasok pilihan” dan membayar harga tertinggi.

Pada 2004, Starbucks membayar rata-rata US$1,20 per pon kopi hijau (belum dipanggang), 74% lebih tinggi dari harga pasar. Dampaknya, petani Kolombia lebih suka menanam kopi daripada koka -bahan kokain yang merusak masyarakat.

Starbucks mendorong pertanian berkelanjutan dan keanekaragaman hayati dengan mendukung kopi yang ditanam di bawah naungan hutan (shade-grown). Cara ini bisa menyelamatkan hutan tropis yang mungkin dipakai untuk produksi kopi.

Pada 2002, Starbucks membeli 20 kali lebih banyak kopi jenis ini dari 1999. Pada 2003 jumlahnya naik menjadi 1,8 juta pon dan pada 2004 sebanyak 2,1 juta pon. Untuk upayanya ini, Starbucks dan mitranya, Conservation International, meraih World Summit Business Award for Stustainable Development Partnership.

Pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman Starbucks adalah bahwa dasar moral yang tinggi sesungguhnya sangat menguntungkan. Sebaliknya, booming era 1990-an, rontoknya pasar modal, resesi, dan skandal korporat besar seperti Enron dan World.com, telah menyadarkan banyak orang betapa runyamnya hasil doktrin bisnis kapitalis yang semata-mata bertujuan mencapai keuntungan finansial.

Pada akhirnya, pengalaman ini menunjukkan keniscayaan suatu manajemen bisnis yang menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan isi dan suara hati manusia. Dengan begitu, hasil yang akan muncul adalah pola keteraturan dan manajemen yang berkelanjutan.

Ingat, manajemen bukanlah bekerja atas dasar tekanan atau hasil saja, tapi harus bekerja secara alami sesuai dengan harkat dan martabat manusia. Manajemen yang meniru Allah dalam menata manusia dan alam semesta, dalam rangka menciptakan kemakmuran Bumi sebagai visinya.