Archive for the ‘Ilmu,Teknologi Pangan dan Pertanian’ Category

Susu merupakan makanan populer di kalangan masyarakat. Terutama di kalangan bayi dan anak – anak.Susu dapat di definisikan sebagai cairan berwarna putih yang diperoleh dari pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya. Susu dapat dikatakan makanan yang hampir sempurna karena zat gizinya yang lengkap. Susu mengandung protein, karbohidrat, lemak, mineral, enzim, vitamin A,C,D dan air dalam jumlah yang memadai. Karena itu susu merupakan makanan yang sehat.

Bagi umat Islam, sangat dianjurkan untuk tidak hanya mengkonsumsi makanan yang halal tetapi juga yang baik (thayib) atau bergizi. Hal ini merupakan manivestasi dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Seperti kutipan Surat Al-Maidah (88) : dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”.

(lebih…)

Iklan

Arsip tempoJawa Timur Produksi 47 Persen Gula Nasional

TEMPO Interaktif, Surabaya:Jawa Timur menghasilkan 1,1 juta ton gula atau 47 persen produksi nasional yang mencapai 2,3 juta ton setahun. Produksi gula ini dihasilkan dari 31 pabrik gula yang tersebar di seluruh provinsi itu.

Sekretaris PT (Persero) Perkebunan Nusantara XI Adig Suwandi mengatakan, tingkat kebutuhan gula di Jawa Timur mencapai 40 ribu ton per bulan dan stok cadangan penyangga 40 ribu ton per bulan. Sehingga, dalam setahun, Jawa Timur hanya memerlukan 520 ribu ton.

Sebanyak 580 ton sisanya dapat dialokasikan untuk wilayah lain yang bukan sentra produksi gula. Sedang konsumsi gula secara nasional diperkirakan 2,6 juta ton

(lebih…)

Untuk mendapatkan bahan baku papain, Tofan mengebunkan pepaya di Ploso, Kediri, Jawa Timur. Lahan seluas 2 ha berpopulasi 4.000 tanaman berjarak tanam 2 m x 2,5 m. Alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu menggunakan bibit berumur 3 bulan. Enam bulan kemudian, buah pepaya siap toreh hingga berumur 3 tahun. Sebatang tanaman berumur 9 -10 bulan terdapat 30 buah pepaya siap toreh. Dalam sebulan, hanya 250 tanaman yang siap sadap. Sebab, penanaman bertahap sehingga umur tanaman berbeda-beda.

Interval penorehan 5 hari sekali atau 5 kali selama 25 hari. Hasilnya 2 kg getah pepaya per tanaman selama 25 hari atau total jenderal 500 kg untuk 250 tanaman. Setelah diproses, getah itu menghasilkan papain kasar. Lantas, porsinya dibagi untuk ekspor ke Taiwan, pengiriman sampel ke berbagai tempat, dan pembuatan pelunak daging untuk memasok pasar lokal.

Kirim sampel
Dari 500 kg getah itu diolah menjadi crude papain (CP)alias papain mentah dengan pengeringan pada suhu 57,5 -60o C. Hasilnya, 100 kg CP. Menurut Tofan biaya produksi untuk menghasilkan 1 kg CP hanya Rp250.000. Itu sudah memperhitungkan sewa lahan, tenaga kerja, perawatan, panen, dan investasi. Papain mentah itulah yang diekspor ke Taiwan dengan volume rutin 20 kg per bulan.

Selebihnya?Pria 35 tahun itu mengirimkan 20 kg sampel ke berbagai importir dan perusahaan di dalam negeri. Sisa 60 kg ia kembangkan untuk pasar dalam negeri. Memang pasar ekspor (ke Taiwan)masih terbuka lantaran meminta 60 kg. Namun, Tofan memilih mencari pasar lain karena perdagangan dengan Taiwan kadang banyak kendala.

Pengiriman sampel dilakukan Tofan rutin setiap bulan sejak 2 tahun lalu seperti ketika ia memulai usaha papain. Begitulah cara Tofan membuka pasar ekspor. Hasilnya memang belum kelihatan, tapi ia yakin suatu ketika pasar ekspor dapat ditembusnya. Pasar Taiwan diperoleh setelah ia mengiklankan produknya di sebuah situs. Dalam waktu 30 hari penawaran datang.

Ia juga memasarkan rata-rata 60 kg CP sebagai pengempuk daging di pasar domestik. Selain berbahan CP, Tofan menambahkan tepung jagung, garam, dan dektrosa untuk membuat pengempuk daging. Dalam 1 kg pengempuk daging, ia hanya memerlukan 1 ons CP, 9 ons lain berupa bahan-bahan tadi.

Artinya dalam sebulan ia sanggup memasarkan 600 kg pengempuk daging ke berbagai pasar swalayan. Ia memperoleh harga Rp10. 000 per 7, 5 gram pengempuk daging -setelah dicampur dengan bahan lain. Laba yang ditangguk dari perniagaan pengempuk daging itu sekitar Rp1.300.000 per bulan.

Ia juga pernah mengekspor papain ke India dan Jepang selama 6 bulan. Volume ekspor masing-masing 20 kg per bulan dengan harga US$60. Harga itu lebih tinggi dibanding yang diterima produsen papain di Cina dan India. Mereka hanya menerima harga US$35 – US$$45. Sebab, nilai proteolitik papain produksi Tofan lebih tinggi, 1.500 -3.000 U/gram. Sedangkan nilai proteolitik papain India dan Jepang hanya 1.250 U/gram.

Semakin tinggi nilai proteolitik, kian cepat papain memecah protein sehingga harganya pun lebih mahal (baca:Getah Sejuta Manfaat , halaman 136 -137). Sayang, Jepang dan India menghentikan permintaan. Ia tak tahu penyebabnya karena transaksi dilakukan seorang perantara di Surabaya. Setahun lalu importir Cina minta pasokan rutin 2 ton/bulan. Tofan menolaknya karena getah pepaya, bahan baku papain, sulit didapatkan. Belum banyak pekebun yang menoreh buah.

Di Kediri, yang jadi sentra pepaya, paling hanya 4 orang, kata ayah satu putri itu. Harap mafhum, informasi getah papain jarang didengar petani. Ketika Trubus menyusuri sentra pepaya di Leles, Kabupaten Garut, banyak pekebun yang belum mengenal papain. Di sana pepaya dipetik mengkal untuk diolah menjadi manisan. Dengarlah pertanyaan seorang pekebun kepada Trubus, Batangnya yang disadap?

Ditinggal inti
Tak semua pekebun seberuntung Tofan. Rekannya Eko Sumaryanto malah kesulitan memasarkan papain. Awal 2005 Eko membeli 250 kg getah pepaya dari beberapa pekebun senilai Rp10-juta. Saat itu Eko meneken kontrak dengan sebuah perusahaan. Isinya: perusahaan itu akan membeli CP produksi Eko. Namun, apa lacur, setelah getah diolah – menjadi 50 kg crude papain -, perusahaan itu memutuskan kontrak. Eko akhirnya mengolah CP menjadi beragam produk seperti pengempuk daging, sabun, dan krim pencuci wajah. Pengempuk daging dikemas dalam botol 75 gram, dipasarkan dengan harga Rp6.000.

Hingga medio Februari 2006 -setahun setelah ia memulai usaha papain -, ia memasarkan 15. 000 botol. Saat ini penjualan rata-rata 2. 000 botol pengempuk daging per bulan. Produk itu memberikan omzet Rp12-juta atau laba bersih Rp6-juta per bulan. Konsumen pengempuk daging adalah pasar swalayan di Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Sedangkan untuk produk kosmetik, hingga Februari 2006, Eko memasarkan 500 botol, sebagian besar krim wajah, yang harganya Rp15.000 – Rp20.000.

Omzet yang diraih Eko dari penjualan kosmetik berbahan papain itu sekitar Rp7, 5-juta. Keuntungannya lebih besar daripada pengempuk daging, ujar Eko. Itulah sebabnya pria 37 tahun itu berniat melanjutkan bisnis papain itu lantaran pasar dalam negeri mulai terkuak. Sementara pasar ekspor terbentang luas. Setidaknya itulah pengakuan Edy Nugraha, produsen papain di Bandung, Jawa Barat.

Bermitra
Sejak 2 tahun lalu, Edy Nugraha rutin memasok 1 ton CP ke Belgia. Padahal permintaan mereka mencapai 5 ton per bulan, kata sarjana agribisnis alumnus Institut Pertanian Bogor. Trubus sempat mengirimkan surat elektronik kepada Petrik Deprez, importir Belgia yang rutin membeli papain produksi Edy. Sayang, hingga tulisan ini diturunkan jawaban itu belum datang.

Edy bermitra dengan beberapa pekebun pepaya di Sukabumi, Jawa Barat. Dari merekalah -total luas lahan 60 ha – kelangsungan bisnis Edy berlanjut hingga sekarang. Pekebun menyetor getah – harga jual saat ini Rp7. 000 per kg – kemudian diolah oleh Edy dengan natrium bisulfit. Biaya produksinya termasuk pembelian getah hanya Rp8. 000/kg, kata Edy. Setelah diblender, produk itu diserahkan kepada importir.

Nilai proteolitik papain Edy jauh di bawah Tofan, 300 -700 IU, karenanya harganya jauh lebih rendah. Ia menjualnya US$6 per kg untuk grade 300 -500 U/gram, sedangkan di atas 500 U/gram seharga US$12. Menurut Edy, papain produksinya dimurnikan kembali oleh Enzybel, perusahaan papain di Belgia. Dengan volume rata-rata 1 ton, laba yang diraihnya Rp49-juta per bulan. Edy mengatakan, selain dari Belgia, permintaan juga datang dari importir asal Amerika Serikat yang mencapai 40 ton per minggu. Sayang, produksinya belum memadai.

Edy mengendus peluang bisnis papain pada 4 tahun lalu. Saat itu ia bermitra dengan pekebun pepaya buah. Ia lantas mengubah orientasi bisnisnya begitu mengetahui margin papain lebih tinggi ketimbang pepaya buah. Empat tahun silam, harga sekilo pepaya di tingkat pekebun Rp150. Bobot sebuah pepaya rata-rata 3 kg sehingga total harganya Rp450. Tanpa pengalaman sebelumnya, ia megolah getah pepaya dengan microwave yang biasa digunakan ibunya untuk membuat kue.

Wajar jika mutu papain yang dihasilkan saat itu amat rendah. Warnanya kecokelatan sehingga kerap ditolak oleh importir. Saya orangnya tak gampang menyerah. Sudah saya jalani harus saya tuntaskan, katanya. Setelah beberapa kali mutu sampel ditingkatkan, pasar ekspor dapat diraih.

Lebih untung
PT Prime Agrotama Niaga (PAN) juga tengah merintis pasar ke Singapura. Twin Food, eksportir daging di negeri jiran, rencananya membutuhkan 10 ton papain per bulan. Untuk sementara PAN bermain di pasar domestik dengan memasok pengempuk daging di beberapa pasar swalayan. Wedy Aksana, direktur PAN mengatakan, penjualan rata-rata 2.000 dus per bulan. Sebuah dus terdiri atas 40 botol dengan volume 72 gram.

Sebagian produsen, memang menikmati laba berlimpah dari perniagaan papain. Pasar terbentang dan harga jual tinggi ketimbang jika memasarkan pepaya sebagai buah konsumsi. Lihatlah H Ota Rohata, pekebun pepaya buah di Sukabumi. Dari 1. 600 tanaman per ha, ia menuai 96 ton selama 1 tahun penanaman. Ia menjual ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, Rp500 per kg. Artinya, total pendapatannya Rp48-juta. Setelah dikurangi biaya produksi Rp16.250.000, ia mengantongi laba bersih Rp31.750.000.

Dengan demikian mengebunkan pepaya untuk disadap jauh lebih menguntungkan. Apalagi prospeknya memang aduhai. Kini keputusan di tangan Anda:memetik atau menyadap buah

Disadur dari : TRUBUS-Perkebunan-Laba di Balik Luka

Penggunaan enzim untuk pengempukan daging sebenarnya telah lama dilakukan. Nenek moyang kita dahulu sudah menggunakan menggunakan daun pepeya untuk membungkus daging yang akan diolah. Sekarang cara pengempukan daging dengan menggunakan enzim pemecah protein, bahkan telah diproduksi dalam skala industri.

Untuk dapat menghargai mutu daging dan hasil pengolahannya, konsumen harus mengetahui tentang kriteria mutu daging yang baik. Salah satu penilaian mutu daging adalah sifat keempukannya, yang dapat dinyatakan dengan sifat mudah tidaknya dikunyah. Faktor yang mempengaruhi keempukan daging ada hubungannya dengan komposisi daging itu sendiri, yaitu berupa tenunan pengikat, serabut daging, sel-sel lemak yang ada diantara serabut daging serta rigor morti daging yang terjadi setelah ternak dipotong. Untuk mendapatkan daging yang empuk telah diusahakan berbagai cara diantaranya dengan melakukan pemuliaan ternak, karena 50% dari faktor yang menentukan keempukan daging adalah faktor genetik atau keturunan. Disamping itu, digunakan cara pemberian pakan ternak yang baik sebab pakan berperan dalam pembentukan tekstur daging, serta dengan cara pemeraman (penyimpanan dalam suhu dingin). Terjadinya keempukan daging selama pemeraman disebabkan protein daging mengalami perubahan oleh enzim proteolitik. Kini cara pengempukan daging sudah maju, yaitu dengan menggunakan protease (enzim pemecah protein) kasar maupun murni. Bahkan enzim tersebut sudah diproduksi dalam skala industri dan penggunaannya dalam keluarga dan restoran sudah diterima dengan baik. Enzim protease yang telah lama digunakan untuk pengempukan daging berasal dari tanaman terutama papain, bromelin dan fisin yang berturut-turut dari buah pepaya muda, nenas matang dan getah pohon ficus. Enzim papain paling banyak digunakan. Enzim ini tergolong protease sulfhidril. Secara umum yang dimaksud dengan papain adalah papain yang telah murni maupun yang masih kasar. Dalam getah pepaya, terdapat tiga jenis enzim, yaitu papain, kimopapin dan lisozim. Kestabilan papain baik pada larutan yang mempunyai pH 5,0. Papain mempunyai keaktifan sintetik serta daya tahan panas yang lebih tinggi dari enzim lain. Disamping keaktifan untuk memecah protein, papain mempunyai kemampuan membentuk protein baru atau senyawa yang menyerupai protein yang disebut plastein dari hasil hidrolisa protein. Pembuatan enzim papain sangat sederhana dan praktis, yaitu : buah pepaya diambil getahnya dengan jalan melukai bagian luar kulit pepaya, kemudian getah tersebut ditampung dan dikeringkan. Setelah kering berbentuk tepung maka dihasilkan papain yang masih kasar.

Tinggi rendahnya keaktifan enzim papain yang dihasilkan tergantung dari cara pengolahannya.  Proses enzimatik pada pengempukan daging: a. Pengempukan daging sebelum pemotongan/ antemortem. Pengempukan daging antemortem adalah cara pengempukan dengan penyuntikan larutan papain beberapa waktu sebelum ternak dipotong. Larutan papain yang digunakan  biasanya larutan papain murni. Tetapi papain yang masih kasar dapat pula digunakan dengan beberapa perlakuan pendahuluan, yaitu : getah pepaya yang telah kering digiling dan disaring sehingga lolos pada saringan 80 mesh. 75 gr tepung papain ini kemudian dicampur dengan 75 gr gliserin murni (chemical pure) sehingga berbentuk pasta. Kemudian dilarutkan dalam air destilasi (aquades) sebanyak 1.5000 ml, disentrifuse/diendapkan sehingga didapat larutan bening. Larutan ini disterilkan dengan saringan bakteri (Seitz filter). Keaktifan enzim yang diperoleh antara 800 sampai 1.500 tyrosil unit/ml. Jumlah larutan yang disuntikkan pada ternak besar biasanya sekitar 80-120 ml dan pada unggas 2-3 ml. Waktu sirkulasi darah secara lengkap pada ternak besar 1-2 menit dan untuk unggas hanya 2 detik, dengan tempat penyuntikan pada vena leher/jugularis pada ternak besar sedang vena sayap pada unggas.  b. Pengempukan daging setelah pemotongan/ postmortem.Biasanya dilakukan dengan cara menaburkan bubuk enzim pada daging mentah, dengan merendam pada larutan enzim, dengan penyemprotan larutan enzim atau dengan penyuntikan larutan enzim di beberapa tempat pada karkas atau daging segar. Penggunaan tepung yang ditabur atau dioleskan pada permukaan daging menghasilkan daging yang mempunyai keempukan tidak merata, bagian luar lebih empuk dari bagian dalam.

Demikian juga jika direndam dalam larutan enzim papain. Untuk mendapatkan penyebaran enzim yang lebih merata dilakukan beberapa usaha diantaranya dengan menusuk-nusuk daging dengan garpu sebelum diberi papain dan dengan menyuntikkan larutan enzim ke berbagai tempat dalam daging dengan dosis sama seperti pengempukan antemortem. Menurut Goser (1961), cara penyuntikan antemortem dianggap paling efisien karena sistem vaskuler dari hewan yang masih hidup merupakan sistem distribusi yang sempurna karena saluran peredaran darah dapat membagi dosis papain keseluruh jaringan tubuh menurut proporsi yang diharapkan. Enzim ini mempunyai kemampuan mengempukan daging khususnya pada suhu pemasakan, sehingga dalam bentuk segar yaitu suhu kamar, proses pengempukannya belum terjadi. Dari beberapa enzim pengempukan yang ada, ternyata papain lebih banyak digunakan karena selain mudah diperoleh, getah buah pepaya muda juga secara ekonomis lebih murah dari buah nenas dan pohon fiscus yang jarang terdapat di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut diatas maka penggunaan enzim papain dapat dijadikan alternatif dari beberapa cara pengempukan daging yang berasal dari unggas maupun ternak besar, baik sebagai industri rumah tangga atau industri yang lebih besar

Pertanian Indonesia di tahun 2006 masih tetap menghadapi persoalan-persoalan klasik. Kelangkaan pupuk menjelang masa tanam, kekeringan di saat kemarau, kebanjiran di musim hujan, harga anjlok ketika panen, mencekik saat paceklik, serta konversi lahan yang kian tak terbendung.

Jika kelangkaan pupuk, kekeringan, banjir, hama, dan penyakit dampaknya terhadap produksi pertanian, terutama padi, tidak bersifat permanen, dampak berkurangnya lahan pertanian karena konversi akan bersifat permanen terhadap turunnya produksi. Sekali lahan pertanian, terutama sawah, beralih fungsi, mustahil kembali lagi menjadi sawah.

Kekhawatiran terhadap kelangkaan pupuk dan anjloknya harga beras selalu disuarakan dengan lantang oleh para wakil rakyat karena khawatir produksi pangan nasional merosot. Anehnya, soal konversi lahan nyaris tidak pernah mendapat perhatian. Jangankan ”suara lantang”, yang sayup-sayup pun hampir tak terdengar. Padahal, dampaknya jelas dan permanen terhadap produksi pangan nasional.

Kebutuhan pangan terus naik dari tahun ke tahun. Tahun 2020 diperkirakan perlu 9,3 juta hektar sawah untuk mencukupi kebutuhan beras nasional. Saat ini luas sawah hanya 8,11 juta hektar, 45 persen di antaranya ada di Jawa dan Bali. Dari tahun ke tahun bukan perluasan yang terjadi, tetapi justru luas sawah kian menyusut (tabel: Neraca Lahan Sawah di Indonesia).

Kerugian investasi

Konversi lahan tidak hanya berpengaruh terhadap produksi pangan, tetapi juga hilangnya investasi untuk membangun irigasi dan prasarana lainnya. Menurut Sumaryanto dan Tahlim Sudaryanto dari Pusat Studi Sosial Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB), nilai investasi per hektar sawah tahun 2000 lebih dari Rp 25 juta dan tahun 2004 mencapai Rp 42 juta per hektar.

Jika biaya pemeliharaan sistem irigasi dan pengembangan kelembagaan pendukung juga diperhitungkan, investasi untuk mengembangkan ekosistem sawah akan mencapai lima kali lipat dari angka tersebut.

Belum lagi kerugian ekologis bagi sawah di sekitarnya akibat alih fungsi sebagian lahan, antara lain hilangnya hamparan efektif untuk menampung kelebihan air limpasan yang bisa membantu mengurangi banjir. Kerugian itu masih bertambah dengan hilangnya kesempatan kerja dan pendapatan bagi petani penggarap, buruh tani, penggilingan padi, dan sektor- sektor pedesaan lainnya. Sektor pertanian, terutama padi, merupakan sektor yang paling banyak menyediakan lapangan kerja.

Pendapatan kotor usaha tani padi sekitar Rp 5,2 juta per hektar per musim. Sementara biaya produksi per hektar per musim Rp 2,3 juta, sekitar 45 persen untuk ongkos tenaga kerja. Dengan alih fungsi, berarti petani kehilangan peluang pendapatan Rp 2,9 juta per hektar per musim, dan buruh tani kehilangan Rp 1,05 juta per musim.

Bagi pemilik lahan, mengonversi lahan pertanian untuk kepentingan nonpertanian saat ini memang lebih menguntungkan. Secara ekonomis, lahan pertanian, terutama sawah, harga jualnya tinggi karena biasanya berada di lokasi yang berkembang.

Riman (65), misalnya, rela mengubah kebunnya menjadi petak-petak kontrakan daripada tetap menanam palawija. Alasannya, dengan tiga petak rumah yang dibangun di atas tanah 150 meter persegi, setiap bulan dia memperoleh dari kontrakan rumah sekitar Rp 750.000.

”Sementara kalau saya tanami mentimun, paling dapat sekarung, harganya cuma Rp 15.000 sampai Rp 20.000. Itu pun masih harus menunggu 40 hari dan harus mikir beli urea, bibit, dan tenaga yang dikeluarkan,” ujar warga Kampung Pondok Serut, Desa Pakujaya-Serpong, Tangerang, yang lahannya terkepung tembok real estate itu.

Namun, bagi petani penggarap dan buruh tani, konversi lahan menjadi ”bencana” karena mereka tidak serta-merta bisa beralih pekerjaan. Mereka terjebak pada kian sempitnya kesempatan kerja. Bakal muncul masalah sosial yang pelik.

Penelitian Sumaryanto dan Tahlim Sudaryanto memperkuat hal ini, yaitu jika di suatu lokasi terjadi konversi lahan pertanian, segera lahan-lahan di sekitarnya akan terkonversi dan sifatnya cenderung progresif. Karena, sejalan dengan pembangunan kawasan perumahan dan industri, akses ke lokasi tersebut akan semakin baik. Ini mendorong naiknya permintaan lahan oleh investor lain, atau spekulan tanah, sehingga harganya semakin tinggi, membuat petani pemilik lahan lain menjual lahannya.

Paradigma baru

Menurut Ketua Program Studi Sosiologi Pedesaan Pascasarjana IPB MT Felix Sitorus, alih fungsi lahan pertanian untuk kepentingan nonpertanian terkait paradigma pertanahan penguasa. Di era kolonialisme Inggris (1811-1816), paradigmanya adalah tanah untuk negara, semua tanah milik raja atau pemerintah, petani wajib membayar pajak dua per lima dari hasil tanah garapannya. Masa tanam paksa (1830-1870), paradigmanya tetap tanah untuk negara, pemerintah menjadi pemilik tanah, dan kepala desa meminjam tanah itu, selanjutnya dipinjamkan kepada petani. Petani tidak membayar pajak, tetapi seperlima dari tanahnya harus ditanami komoditas tertentu yang hasilnya diserahkan kepada Pemerintah Belanda. Paradigma bergeser pada era kapitalisme kolonialisme (1870-1900), yaitu tanah untuk negara dan swasta, pemerintah memberikan hak erpacht 75 tahun kepada pemodal.

Di era pemerintahan Presiden Soekarno, paradigma diubah menjadi tanah untuk rakyat dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Tahun 1960, yang diikuti landreform (1963-1965) soal penetapan luas tanah pertanian. ”Tetapi hanya sebentar, belum terimplementasi dengan baik. Pemerintahan Soeharto mengembalikan paradigma, yaitu tanah untuk negara dan swasta, dan itu berlangsung sampai kini, apalagi adanya Perpres No 36/2005,” kata Felix.

Krisis paradigma pertanahan yang berlangsung lama di Indonesia terlihat setidaknya dari banyaknya kasus sengketa tanah antara rakyat dan pemerintah atau pengusaha. Konsorsium Pembaruan Agraria tahun 2002 mencatat ada 1.920 kasus sengketa tanah, yang melibatkan 1.284.557 keluarga dengan luas lahan 10,512 juta hektar.

”Oleh karena itu, sebelum ditetapkan keputusan menyediakan lahan abadi pertanian seluas 15 juta hektar, harus jelas dulu itu untuk siapa, apakah tanah pertanian abadi untuk negara, swasta, atau petani. Selama paradigmanya masih tanah untuk negara dan swasta, konversi lahan masih tetap akan terjadi. Sementara bagi petani, bertani bukan sekadar untuk alasan ekonomi, tetapi bagian dari pandangan hidupnya,” ujar Felix.

Setidaknya telah ada sembilan peraturan, mulai dari keputusan presiden, peraturan Menteri Dalam Negeri, peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional, hingga surat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mengendalikan konversi lahan pertanian ke nonpertanian.

Semua itu tidak efektif menghentikan konversi. Persoalan ini tidak cukup hanya dihadapi dengan peraturan perundang-undangan karena masalahnya bukan hanya persoalan kebutuhan sektor lain akan lahan, tetapi menyangkut kesejahteraan petani, kepentingan keuangan pemerintah daerah, para pengejar rente, serta kebijakan dasar perekonomian yang ingin dibangun.

Diperlukan komitmen yang kuat untuk mencegah terjadinya konversi lahan pertanian, yang diwujudkan pada visi baru dalam kebijakan yang dilaksanakan. Keberpihakan pada kesejahteraan petani, kepentingan menjaga ketahanan pangan nasional, serta menjaga kelestarian lingkungan harus dinyatakan dengan jelas.

Menjadikan sektor pertanian sebagai lapangan usaha yang menarik dan bergengsi secara alami dapat mencegah terjadinya konversi lahan. Jika konversi terus terjadi tanpa terkendali, hal itu tidak saja melahirkan persoalan ketahanan pangan, tetapi juga lingkungan dan ketenagakerjaan.

Diambil dari : KOMPAS-Bisnis dan Keuangan-”Akutnya Konversi Lahan Pertanian”

Betapa lezatnya menikmati jagung rebus panas saat melancong ke Puncak, Kabupaten Bogor. Di daerah berketinggian 1.200 dpl itu memang banyak pedagang jagung rebus atau jagung bakar. Setelah biji habis disantap, sampahnya dicampakkan begitu saja. Padahal, klobot alias kulit buah jagung itu dapat diolah menjadi premium sebagai bahan bakar mobil.

Klobot untuk premium? Pemanfaatan jagung sebagai bioetanol untuk mengurangi ketergantungan pada premium. Pada 2010, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan, konsumsi premium nasional bakal mencapai 38,27-miliar liter. Hampir dipastikan lebih dari 20% diimpor. Ironis, padahal Indonesia kaya sumber energi fosil non-BBM, kata Dr Ir Agus Eko Tjahyono MEng, kepala Balai Besar Teknologi Pati, BPPT.

Etanol adalah hasil fermentasi bahan sebelum diolah lebih lanjut menjadi bioetanol pengganti premium. Jagung berpotensi memproduksi etanol lebih baik lantaran rendemennya paling tinggi, 55%. Biaya produksinya pun murah. Untuk menghasilkan satu liter etanol cuma diperlukan 2,5 kg jagung seharga Rp1.000/kg. Proses fermentasinya membutuhkan uap air 3,8 kg seharga Rp304 dan listrik 0,2 kwh (Rp200). Jika harga pekerja dihitung Rp300 per liter, maka biaya produksi etanol per liter hanya Rp3.304.

Tiga jenis

Itu cukup murah jika dibandingkan biaya produksi premium yang mencapai Rp6.300. Apalagi beberapa provinsi berpotensi sebagai penghasil jagung seperti Gorontalo, Sumatera Utara, dan Lampung.

Menurut Andy Gumala, ASEAN business manager PT DuPont, jika etanol diproyeksikan menggantikan 10% konsumsi BBM dalam negeri saat ini, maka dibutuhkan 14,4-juta ton jagung atau setara 3-juta hektar lahan jagung. Investasi jagung relatif rendah ketimbang tanaman lain, hanya Rp3-juta/ha. Bandingkan dengan jarak sebagai bahan biodiesel yang membutuhkan investasi Rp8-juta-Rp9-juta/ha. Konsumsi jagung dewasa ini diutamakan untuk konsumsi manusia dan pakan ternak.

Menurut Karin O Hgren dari Departemen Teknik Kimia, Lund University, Swedia, tak hanya pati jagung yang berfungsi menjadi bahan baku bioetanol. Kulit jagung atau klobot dapat dijadikan bahan utama bioetanol. Klobot mengandung 2 jenis gula yaitu glukosa dan silosa yang diperoleh dengan merebus awal lalu dihidrolisis. Selanjutnya biarkan ragi roti Saccharomyces cerevisiae bekerja. Hasilnya, 20% etanol.

Jagung yang kaya serat cuma salah satu bahan bioetanol. Menurut Dr Tatang H Soerawidjaja dari Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung, ada 3 kelompok bahan baku etanol alami yaitu nira bergula, pati, dan bahan serat alias lignoselulosa. Semua bahan baku etanol itu mudah didapatkan dan dikembangkan di Indonesia karena negara ini memiliki lahan luas dan subur.

Tebu mengandung gula sehingga mudah diproses menjadi bioetanol. Satu ton tebu mampu menghasilkan 70-90 liter etanol. Bagas (sisa batang tebu yang diperas airnya, red) dan daun keringnya juga harus digunakan, kata Yahya Kurniawan, periset Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Dari bagas tebu bisa diperoleh 27-33 liter etanol/ton tebu dan daun keringnya menghasilkan 11-16 liter etanol/ton.

Menurut Prof Goeswono Soepardi, mantan direktur P3GI, beberapa jenis tebu genjah seperti jatimulyo dan mlale berproduksi rata-rata 75 ton/ha. Artinya, setiap hektar lahan tebu menghasilkan tebu setara dengan 750 liter bioetanol. Dengan perhitungan seperti itu, tebu bisa menjadi andalan bahan baku bioetanol di masa depan.

F.A. Agblevor dari Department of Biological Systems Engineering, Virginia Polytechnic Institute and State University, Blacksburg, Amerika Serikat, memanfaatkan kulit dan biji kapas sebagai bahan baku etanol. Sebelum diproses, limbah kapas didiamkan lebih dari 1 bulan hingga melunak. Maksudnya agar kandungan silosa, manosa, galaktosa, dan glukosa meningkat. Dari satu ton limbah kapas dituai 360 liter etanol.

Merang

Bahan baku etanol lain adalah limbah pertanian merang padi. Menurut penelitian Seung Do-Kim dari Department of Chemical Engineering & Materials Science, Michigan State University, Amerika Serikat, satu kilogram merang menghasilkan 0,28 liter etanol. Merang mengandung selulosa dan hemiselulosa. Honda Motor telah memanfaatkan etanol asal merang pada awal 2006.

Penelitian bioetanol berbahan tomat apkir dilakukan oleh I Del Campo dari Biomass Energy Department, CENERNational Renewable Energy Centre, Spanyol. Tomat mengandung 50,20% gula. Setelah fermentasi menghasilkan 18% etanol. Biomass Resources Corp di Amerika Serikat mengembangkan etanol dari ekstraksi limbah pabrik nanas. Selain 20% bioetanol, perusahaan itu memproduksi hasil samping berupa enzim bromelain, silitol, dan protein yang nilainya tinggi.

Umbi ubijalar juga pantas dilirik. Menurut Dr Tatang H Soerawidjaja, 1.000 kg ubijalar menghasilkan 150-200 kg gula. Dengan proses fermentasi lanjutan menghasilkan 125 liter bioetanol. Itu berarti rendemen ubijalar 12,5%. Potensi lain dimiliki oleh sagu yang memilki rendemen 9%. Dari 1 ton sagu dihasilkan 120-160 liter gula atau 90 liter etanol.

Singkong atau ubikayu paling berpotensi sebagai bahan bioetanol. Hanya dengan memfermentasi 7 kg singkong, satu liter bioetanol dapat dituai dengan biaya produksi Rp2.400. Itu berarti ongkos produksi jauh di bawah harga premium, Rp4.500 yang hingga saat ini masih disubsidi sebesar Rp1.800/liter. Kerabat karet itu dapat tumbuh di lahan kritis dan resisten terhadap penyakit. Singkong dipanen setahun setelah penanaman. Produksi ubikayu Indonesia mencapai 104.136 ton dari luas panen 9.198 ha pada 2004.

Untuk mensosialisasikan program penggunaan bioetanol, Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) memiliki pabrik pembuatan bioetanol di Desa Sulusuban, Bandar Jaya, Lampung Tengah. Pabrik itu mengolah 50 ton singkong menjadi 8.000 liter bioetanol/hari. Pasokan bahan baku diperoleh kebun milik Balai seluas 700 hektar dengan tingkat produktivitas 25-30 ton/hektar.

Proses produksi etanol sangat mudah, tak perlu investasi alat mahal (baca: Mengebor Bensin di Kebum Singkong, hal 150). Dengan keanekaragaman hayati amat tinggi, Indonesia punya banyak pilihan untuk memproduksi biopremium.

klik disini untuk melihat slide pembuatan etanol http://adf.ly/H3Gj1

Diambil dari :Trubus-perkebunan-“makanan makhluk bermesin”

 

Puluhan kendaraan bermotor-jumlahnya sekitar 30 wahana-mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Rampal, Malang, Jawa Timur. Penghujung November 2006, premium sebetulnya tersedia cukup. Cuma kendaraan-kendaraan itu terkonsentrasi di satu titik: gerai penyedia bioetanol. Sementara 2 gerai penyedia premium kosong-melompong, tak ada yang antre.

SPBU di Rampal, Malang, Jawa Timur, satu-satunya yang menyediakan biopremium di Jawa Timur. Komposisinya, 5% etanol asal tebu dan 95% premium. Campuran kedua bahan itu juga disebut gasohol. Harga gasohol di Malang sama dengan premium. Meski demikian, masyarakat antusias mengisi kendaraannya dengan biopremium. Menurut Suwandi, kepala SPBU Rampal, rata-rata penjualan gasohol mencapai 14.000 liter per hari. Itu meningkat 22% ketimbang saat pertama kali SPBU dibuka, 13 Agustus 2006. Saat itu permintaan gasohol baru 11.000 liter per hari.

Dr Agus Eko Tjahyono sejak 2004 juga mencampurkan bioetanol ke dalam tangki Opel Blazer berwarna perak. Sebelum penutup tangki dikunci, ia menuangkan 3 liter etanol asal singkong. Di dalam mobil kesayangannya, doktor Teknik Kimia alumnus Hiroshima University itu selalu tersedia 2 jeriken bioetanol masing-masing 10 liter. Bila ketersediaan bioetanol-etanol asal bahan nabati seperti singkong melimpah-ia ingin seluruh bahan bakar mobilnya berupa bioetanol.

Sekarang, dari 80 liter kapasitas bahan bakar Opel Blazer, baru 15% yang disubstitusi oleh bioetanol atau dikenal E15, artinya bioetanol 15%. Setiap hari pria separuh abad itu mengendarai mobilnya dari rumah di Tanjungkarang, Lampung, ke Badan Besar Teknologi Pati (B2TP) di Suluban berjarak 80 km. Hingga kini Opel Blazer berbahan bakar bioetanol itu menempuh jarak 95.000 km.

Emisi

Setahun terakhir bioetanol menjadi pilihan pengendara kendaraan bermotor. Bioetanol adalah hasil fermentasi etanol asal tumbuhan seperti tebu, singkong, dan jagung. Sebagai bahan bakar, bioetanol mirip biodiesel. Bedanya, bioetanol khusus untuk kendaraan berbahan bakar premium dan pertamax atau bensin; biodiesel, pengganti solar.

Uji coba pengaruh bioetanol terhadap daya dan torsi pada mesin statis dan dinamis dilakukan laboratorium Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi (TMP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Tangerang. Hasilnya menunjukan bioetanol 10% identik atau cenderung lebih baik ketimbang pertamax. Emisi CO (karbon monoksida) dan HC (hidrokarbon) mobil yang menggunakan E10 lebih rendah dibandingkan dengan premium maupun pertamax, ujar Prawoto, peneliti Balai TMP. Emisi CO pada E10 hanya 0,31 g, sedangkan premium dan pertamax masing-masing 0,5 g dan 0,58 g per km. Karbonmonoksida berlebih mengikat hemoglobin dalam darah, sehingga mengganggu konsentrasi manusia.

Total hidrokarbon yang memicu bahaya gangguan kecerdasan, kesehatan reproduksi, dan gejala sakit, pada bioetanol hanya 0,33 g, premium 0,38 g, dan pertamax 0,40 g per km. Etanol absolut alias 99% memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan premium hanya 87-88. Campuran bensin dan 10% etanol atau gasohol E-10 memiliki ON 92 setara pertamax. Nilai itulah yang membuat bioetanol terkenal sebagai oktan paling ramah lingkungan sehingga menggeser penggunaan Tetra Ethyl Lead (TEL) maupun Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE), pengganti timbel pada bensin.

Dari segi kinerja, gasohol E10 tak kalah dengan bahan baku fosil. Kekuatan yang dihasilkan E10, 41,23 kw, sedangkan premium hanya 30,97 kw. Daya tarik mesin berbahan bakar gasohol E10 sebanyak 25% lebih tinggi yaitu sebesar 1856,1 N, premium 1393,8 N. Laju konsumsi/jam, gasohol E10 pun lebih hemat, hanya 30,39 liter dan premium 31,03 liter/jam. Penyebabnya, bioetanol mengandung 35% oksigen sehingga meningkatkan efisiensi pembakaran.

Cadangan menipis

Pemanfaatan bioetanol sebagai bahan bakar atau campuran tak dapat ditawar lagi. Maklum konsumsi premium Indonesia terus melambung. Celakanya premium itu tak lagi sepenuhnya ditambang di dalam negeri, tetapi harus diimpor. Konsumsi premium 2001 mencapai 14,60-miliar liter. Dari tahun ke tahun konsumsi bensin kian meningkat. Pada 2003 konsumsinya mencapai 12,34-miliar liter, 2004 (15-miliar liter), dan 2005 (17,47-miliar liter).

Pada 2005, seperlima dari total kebutuhan premium Indonesia diimpor; jumlahnya mencapai 3,5-miliar liter. Di tengah harga minyak yang terus melonjak, harga jual premium masih bergantung pada subsidi pemerintah. Biaya produksi sebenarnya Rp6.300, nilai subsidi Rp1.800 per liter.

Memproduksi etanol dari bahan nabati bukan barang baru bagi industri di Indonesia. Berdasarkan data Departemen Perindustrian dan Perdagangan Produksi, produksi bioetanol pada 2002 mencapai 180-juta liter. Itu diperoleh dari empat pabrik di Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Para produsen antara lain PT Aneka Kimia Nusantara 18,5-juta liter, PT Indo Acidatama 78-juta liter, PT Indo Lampung Distillery 50-juta liter, PT Molindo Raya 24-juta liter, dan PTPN XI 4-juta liter per tahun.

Sayang, spesifi kasi yang dihasilkan masih sebatas mutu teknis, belum mencapai kualitas bahan bakar. Oleh karena itu, semua produksi bioetanol itu sebagai bahan baku industri asam asetat, selulosa, pengolahan rumput laut, minuman alkohol, cat, farmasi, dan kosmetik untuk konsumsi ekspor.

Kami masih menunggu standar SNI (Standar Nasional Indonesia, red) bioetanol bahan bakar yang akan dipakai di Indonesia, kata Donny Winarno, vice president sales marketing PT Molindo Raya Industrial. Pada 2007, dipastikan pasokan bioetanol untuk bahan bakar mencapai 8-juta-10-juta liter per tahun. Perusahaan itu meningkatkan bahan baku tetes dan nira tebu sebanyak 190.000 ton. Ia juga mengembangkan bahan baku singkong dengan bermitra bersama petani untuk menggarap lahan 5.000 ha di Lampung Timur dan 20.000 ha di Pacitan, Jawa Timur.

Tak hanya Molindo yang berniat mengembangkan biofuel di Indonesia. Ada 5 perusahaan yang berniat menggarap etanol dari singkong, kata Wahono Sumaryono, deputi Teknologi dan Agro Industri Kementerian Riset dan Teknologi. Dengan dukungan itu, pada 2010 dipastikan produksi bioetanol Indonesia mencapai 280- juta liter/tahun. Meningkatnya produksi bioetanol akan diikuti peningkatan aplikasi bioetanol menjadi E-10 atau E-20.

Biaya rendah

Produsen bioetanol di Indonesia terbilang kecil ketimbang di Brasil. Negara di bagian selatan Amerika itu, penghasil bioetanol terbesar di dunia. Lebih dari 300 pabrik etanol berdiri sejak 1970. Bahan baku utama nira tebu dari lahan tebu seluas 5,5-juta hektar menghasilkan 14,7-miliar liter bioetanol/tahun. Biaya produksinya pun terendah di dunia, Cuma US$14-16 sen/liter.

Produsen etanol terbesar kedua adalah Amerika Serikat, memproduksi lebih dari 10-miliar liter per tahun. Bahan baku etanol 90% dari jagung dan 10% dari gandum. Sejak etanol digunakan, bahan aditif Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE) dilarang. Cina, produsen etanol terbesar ketiga dunia. Pada 2003 diresmikan pabrik etanol terbesar di dunia, Jilin Ethanol Plant yang berkapasitas 1,25-juta liter per hari. Total produksi mencapai 5,5-juta liter per hari atau 1,5-miliar liter per tahun dengan bahan baku gandum, gaplek, tebu, dan sorgum manis.

Pemerintah mendorong perkembangan penggunaan bioetanol, sama seperti di negara lain. Di Thailand misalnya, diberlakukan insentif pembebasan pajak perusahaan, bea masuk, dan pajak barang modal selama delapan tahun kepada industri etanol. Jika pemerintah Indonesia, swasta, dan petani dapat bekerja sama, substitusi 5% bensin dapat menghemat US$1,539-miliar setara Rp1,539-triliun. Itulah nilai subsidi 0,86-miliar liter bensin pada 2005 dengan harga subsidi Rp1.790/liter. Penghematan bakal kian besar, jika persentase substitusinya meningkat.

Diambil dari : artikel TRUBUS “Ketika Kendaraan Bergantung pada Tumbuhan”